Tiga Desa di Kaki Gunung Penanggungan Krisis Air Bersih, 2.776 KK Terdampak


(photo by detikjatim)


MOJOKERTO – Musim kemarau kembali membawa persoalan krisis air bersih bagi warga di kaki Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto. Tiga desa yang menjadi langganan kekeringan kini mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air, sehingga pemerintah daerah melakukan penanganan darurat melalui distribusi bantuan air bersih.

Tiga wilayah yang terdampak yakni Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas. Total sebanyak 2.776 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih akibat berkurangnya debit sumber mata air.

Kepala Desa Kunjorowesi, Susi Darsono, mengatakan kondisi kekeringan mulai dirasakan warga sejak beberapa bulan terakhir. Sekitar 1.500 KK di sebagian wilayah Dusun Kandangan dan Dusun Kunjoro harus menghadapi keterbatasan pasokan air bersih.

Menurut Darsono, selama musim kemarau warga hanya mengandalkan hujan yang turun sesekali serta pasokan air dari Sumber Lumpang di Desa Duyung. Air dari sumber tersebut dialirkan menggunakan pipa sepanjang sekitar 11 kilometer menuju tempat penampungan di Dusun Kunjoro.

Dari penampungan tersebut, air kemudian dipompa menuju Dusun Kandangan yang memiliki lokasi lebih tinggi dibandingkan Dusun Kunjoro. Namun, keterbatasan kapasitas pompa membuat distribusi air harus dilakukan secara bergiliran.

Setiap rukun tetangga (RT) mendapat jadwal distribusi sekitar enam hari sekali. Sistem pompa juga tidak dapat beroperasi sepanjang hari karena keterbatasan daya listrik dan kebutuhan distribusi yang harus dibagi antara dua dusun.

Selain persoalan ketersediaan air, biaya operasional pompa juga menjadi kendala. Dua mesin pompa yang digunakan untuk mengalirkan air membutuhkan biaya listrik yang cukup besar setiap bulannya. Karena itu, pengoperasian pompa biasanya dihentikan pada sore hari agar pasokan tetap dapat dibagi secara merata.

Sementara itu, Kepala Desa Manduro Manggung Gajah, Eka Dwi Firmansyah, menyebut krisis air bersih saat ini terjadi di Dusun Buluresik dan Dusun Gajah Mungkur. Meski demikian, kondisi tahun ini dinilai belum separah dibandingkan tahun sebelumnya karena masih ada hujan sesekali yang dapat ditampung warga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga juga mengambil air dari Dusun Genting, Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, serta memanfaatkan bantuan dari pihak perusahaan.

Eka menilai persoalan kekeringan akan terus berulang setiap tahun apabila belum ada solusi jangka panjang, seperti pembangunan sumber air baru atau pengeboran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di Desa Duyung, krisis air bersih mulai dirasakan sekitar 85 KK di Dusun Bantal akibat debit sumber air yang terus mengalami penurunan. Pemerintah kemudian memprioritaskan bantuan distribusi air untuk wilayah tersebut.

Kepala Desa Duyung, Jurianto Bambang Siswantoro, mengatakan bantuan air bersih yang diterima saat ini mencapai dua tangki per hari. Meski belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan warga, bantuan tersebut cukup membantu karena wilayahnya baru mengalami dampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, menjelaskan penanganan krisis air bersih dilakukan melalui program distribusi bantuan mulai 22 Juli hingga 5 September 2026. Setiap hari, BPBD mengirimkan tujuh tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing 4.000 liter.

Distribusi tersebut diperuntukkan bagi ribuan warga terdampak sesuai dengan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah. Rinaldi menyebut masa penyaluran bantuan disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, Desa Kunjorowesi menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, yakni 1.499 KK. Rinciannya sebanyak 693 KK di Dusun Kandangan dan 806 KK di Dusun Kunjoro. Wilayah ini mendapat distribusi empat tangki air atau sekitar 16.000 liter per hari.

Desa Manduro Manggung Gajah tercatat memiliki 774 KK terdampak, terdiri dari 375 KK di Dusun Gajah Mungkur dan 399 KK di Dusun Buluresik. Wilayah tersebut memperoleh bantuan satu tangki atau sekitar 4.000 liter air setiap hari.

Sementara Desa Duyung tercatat memiliki 503 KK terdampak yang tersebar di Dusun Duyung sebanyak 247 KK dan Dusun Bantal sebanyak 256 KK. Bantuan yang diberikan mencapai dua tangki atau sekitar 8.000 liter per hari.

Krisis air bersih yang terus berulang menjadi perhatian pemerintah daerah agar tidak hanya ditangani melalui bantuan sementara. Warga berharap adanya solusi permanen sehingga kebutuhan air bersih masyarakat di kawasan kaki Gunung Penanggungan dapat terpenuhi, terutama saat musim kemarau panjang.(red/lis)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama